KEMBARAN - Pengurus PGRI Cabang Kembaran menggelar Pelatihan Nembang Macapat di Aula Korwilcam Dindik Kembaran, Selasa (6/10/2026), sebagai bagian dari peringatan HUT ke-81 Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI) dan Hari Guru Nasional (HGN) 2026. Kegiatan ini bertujuan meningkatkan keterampilan guru dalam seni tembang tradisional Jawa sekaligus memperkuat peran pendidik dalam melestarikan budaya dan menanamkan karakter luhur kepada peserta didik.
Kegiatan tersebut dihadiri Koordinator Korwilcam Dindik Kembaran, Hery Supriyatno, M.Pd., dan Ketua PGRI Cabang Kembaran, Endro Yuswanto. Pelatihan menghadirkan dua pemateri, yakni Kholidin, S.Pd., yang juga menjabat Sekbid Seni PGRI Cabang Kembaran, serta Narsiah, S.Pd. Keduanya memberikan bimbingan kepada peserta untuk mengenal dan mempraktikkan seni macapat secara lebih tepat.
Ketua PGRI Cabang Kembaran, Endro Yuswanto, menegaskan bahwa pengenalan macapat kepada guru memiliki arti penting di tengah perkembangan zaman. Menurutnya, tembang macapat bukan sekadar kesenian tradisional atau warisan sastra Jawa, melainkan juga mengandung nilai pendidikan yang dapat mendukung pembentukan karakter peserta didik.
“Di tengah perkembangan zaman yang semakin modern, guru memiliki peran strategis sebagai pelestari budaya. Dengan mempelajari macapat, guru tidak hanya mendukung terciptanya pendidikan yang berkarakter dan berbudaya, tetapi juga melakukan upaya nyata dalam menjaga identitas serta kelestarian kebudayaan Jawa agar tetap hidup dan relevan sepanjang zaman,” ujar Endro.
Pelatihan ini dirancang untuk memperluas pengetahuan, pemahaman, dan keterampilan guru dalam mempelajari tembang macapat. Materi yang diberikan mencakup aturan dasar, teknik, serta praktik melagukan tembang. Selain itu, guru diharapkan mampu memahami nilai-nilai luhur yang terkandung di dalamnya dan memanfaatkannya sebagai bagian dari penguatan karakter dalam pembelajaran.
Salah satu aspek penting dalam mempelajari macapat adalah pemahaman terhadap guru gatra, guru wilangan, dan guru lagu. Ketiga unsur tersebut berkaitan dengan jumlah baris dalam satu bait, jumlah suku kata pada setiap baris, serta persamaan bunyi vokal pada akhir baris. Pemahaman terhadap aturan tersebut membantu guru mengenali struktur tembang sekaligus membimbing siswa agar dapat melagukannya sesuai kaidah.
Koordinator Korwilcam Dindik Kembaran, Hery Supriyatno, M.Pd., menyampaikan harapan agar pelatihan tersebut memberikan dampak nyata terhadap kompetensi dan kepercayaan diri guru. Ia juga mendorong para peserta untuk tidak berhenti pada penguasaan materi, tetapi menerapkannya secara kreatif dalam kegiatan pembelajaran di sekolah.
“Guru diharapkan dapat mengintegrasikan seni macapat ke dalam pembelajaran secara kreatif, menarik, dan bermakna. Lebih dari itu, guru harus menjadi teladan dan penggerak pelestarian budaya Jawa di lingkungan sekolah, sehingga tumbuh rasa cinta, bangga, dan kepedulian siswa terhadap seni macapat,” tutur Hery.
Harapan tersebut menempatkan guru sebagai penghubung antara warisan budaya dan generasi muda. Melalui pembelajaran yang menarik dan sesuai dengan kebutuhan peserta didik, tembang macapat dapat diperkenalkan bukan hanya sebagai materi kesenian, tetapi juga sebagai media untuk mengenalkan kesopanan, tanggung jawab, kesabaran, dan kebijaksanaan. Nilai-nilai tersebut diharapkan dapat menjadi bagian dari pembiasaan karakter di lingkungan sekolah.
Antusiasme peserta terlihat dari tanggapan Suwarti, guru SD Negeri Tambaksari, yang merasakan manfaat langsung dari kegiatan tersebut. Ia mengungkapkan bahwa pelatihan membantu dirinya memahami teknik melagukan macapat dengan lebih baik, mulai dari aturan tembang hingga karakter irama dan cengkok yang sesuai dengan jenisnya.
“Melalui pelatihan ini, saya menjadi lebih paham cara melagukan tembang macapat dengan benar sesuai pakem, meliputi guru gatra, guru wilangan, guru lagu, serta teknik pelaguan yang tepat. Kami juga diajarkan mengenali karakter, irama, dan cengkok sesuai jenis tembangnya,” ungkap Suwarti.
Ia menambahkan bahwa pengetahuan yang diperoleh menjadi bekal untuk membimbing peserta didik dalam mempelajari tembang macapat secara tepat dan runtut. Dengan demikian, manfaat pelatihan diharapkan tidak hanya dirasakan oleh guru sebagai peserta, tetapi juga menjangkau siswa melalui proses pembelajaran di kelas.
Bagi dunia pendidikan, kegiatan ini menunjukkan bahwa peningkatan kompetensi guru dapat berjalan seiring dengan pelestarian budaya lokal. Pengenalan kesenian tradisional melalui sekolah membuka kesempatan bagi peserta didik untuk mengenal identitas budaya daerah sekaligus memahami pesan moral yang terkandung di dalamnya. Penerapan di kelas dapat disesuaikan dengan mata pelajaran dan kegiatan pengembangan karakter yang relevan.
Melalui Pelatihan Nembang Macapat dalam rangka HUT ke-81 PGRI dan HGN 2026, PGRI Cabang Kembaran berharap guru semakin percaya diri mengenalkan seni tradisional kepada generasi muda. Peran aktif pendidik diharapkan mampu menjaga agar warisan budaya Jawa tetap dikenal, dipelajari, dan diwariskan kepada generasi berikutnya.
Kegiatan ini sekaligus memperkuat pesan bahwa guru bukan hanya pengajar ilmu pengetahuan, melainkan juga teladan dalam menjaga nilai-nilai luhur bangsa. Dengan kompetensi, kreativitas, dan kepedulian terhadap budaya, sekolah dapat menjadi salah satu ruang penting untuk merawat tradisi sekaligus membentuk generasi yang berkarakter.
Kontributor: Riptina

Tidak ada komentar:
Posting Komentar