TAMBAK – Festival Tunas Bahasa Ibu (FTBI) Kecamatan Tambak digelar pada Selasa, 8 September 2026, bertempat di SD Negeri Prembun, Kecamatan Tambak.
Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 SD negeri dan swasta se-Kecamatan Tambak dengan mempertandingkan tujuh cabang lomba bahasa dan sastra Jawa.Kegiatan tersebut diikuti oleh 28 SD Negeri dan Swasta se-Kecamatan Tambak dengan melombakan tujuh cabang lomba bahasa dan sastra Jawa.
Festival ini menjadi wadah bagi peserta didik untuk mengembangkan bakat sekaligus menumbuhkan kecintaan terhadap bahasa dan budaya daerah.
Ketua Panitia FTBI Kecamatan Tambak, Khafid Taftahjani, menyampaikan bahwa kegiatan tersebut menjadi momentum penting untuk mengenalkan dan melestarikan bahasa ibu kepada generasi muda.
Ia menjelaskan bahwa peserta tidak hanya berkompetisi, tetapi juga mendapatkan pengalaman dalam menggunakan bahasa Jawa secara kreatif dan berbudaya. “FTBI bukan sekadar perlombaan, tetapi juga menjadi sarana menumbuhkan rasa bangga terhadap bahasa dan budaya daerah,” ujarnya.
Tujuh cabang lomba yang dilaksanakan meliputi menulis dan membaca aksara Jawa, nembang macapat, menulis cerkak, sesorah, mendongeng, membaca geguritan, serta ndagel ijen. Setiap cabang memberikan ruang kepada peserta untuk menunjukkan kemampuan berbahasa, bersastra, bernyanyi, bercerita, berpidato, hingga menampilkan kreativitas komedi khas daerah. Para peserta mengikuti perlombaan dengan penuh semangat dan berusaha menampilkan kemampuan terbaik di hadapan dewan juri.
Koordinator Korwilcam Dindik Tambak, Untung Iswanto, turut memberikan dukungan terhadap pelaksanaan Festival Tunas Bahasa Ibu tersebut. Menurutnya, pelestarian bahasa daerah perlu dilakukan secara berkelanjutan melalui kegiatan pembelajaran maupun aktivitas kreatif di sekolah. Ia berharap FTBI mampu menjadi bagian dari upaya membangun generasi yang tidak hanya berprestasi, tetapi juga mengenal dan mencintai budaya daerah.
Salah satu guru pendamping, Sutiono, menyampaikan apresiasi atas terselenggaranya FTBI Kecamatan Tambak yang melibatkan sekolah negeri dan swasta. Ia menilai kegiatan tersebut memberikan pengalaman positif kepada peserta didik untuk tampil percaya diri sekaligus mengembangkan potensi mereka dalam bidang bahasa dan sastra Jawa. “Kami sangat mengapresiasi kegiatan ini karena anak-anak memperoleh ruang untuk belajar, berkreasi, berkompetisi, dan mencintai bahasa ibu,” kata Sutiono.
Pelaksanaan FTBI berlangsung meriah dengan dukungan para guru pendamping dan peserta dari berbagai sekolah di Kecamatan Tambak. Selain menjadi ajang kompetisi, kegiatan tersebut juga menjadi sarana mempererat silaturahmi serta membangun semangat sportivitas antarsekolah. Melalui tujuh cabang lomba yang diselenggarakan, peserta diharapkan semakin percaya diri dalam menggunakan bahasa Jawa dan mengekspresikan kekayaan budaya daerah.
Festival Tunas Bahasa Ibu Kecamatan Tambak diharapkan tidak berhenti sebagai kegiatan perlombaan, tetapi menjadi bagian dari gerakan pelestarian bahasa daerah di lingkungan sekolah. Bahasa Jawa sebagai bahasa ibu perlu terus dikenalkan melalui kegiatan yang menyenangkan, kreatif, dan dekat dengan dunia anak. Dengan demikian, generasi muda dapat menjadi penerus yang mampu menjaga bahasa, sastra, dan budaya Banyumasan agar tetap hidup di tengah perkembangan zaman.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar